Di antara anak-anak yang ceria bermain gerimis di pagi hari itu, hanya
dia yang berteduh sendirian di bawah pohon nangka. Aku memperhatikan
pakaiannya yang serba hitam. Mungkin karena merasa diperhatikan, ia
balas menatapku. Tersenyum dingin.Mungkinkah ia…??
April 1993. CINTA
Aku berumur 24 tahun dan dia 28 tahun.
Sudah tiga tahun kami tidak bertemu.
Dulu ia adalah kakak tingkatku di kampus, dan aku sempat menjadi anggota
di organisasi yang dipimpinnya. Aku mengaguminya? Ya. Aku akui itu.
Bahkan mungkin rasanya hampir semua perempuan mengaguminya. Sosok
pemimpin yang nampak sempurna. Tapi semua perasaan ini hanya mampu aku
simpan dalam-dalam. Siapa aku? Dan aku juga tidak pernah membayangkan ia
datang ke rumahku untuk melamarku, kalaupun datang pasti hanya untuk
memberikan undangan pernikahannya dengan perempuan lain. Aku tidak
peduli. Life must go on! Tapi tak bisa kupungkiri, aku kagum dan suka
padanya.
Benar saja. Empat hari setelah ulang tahunku, dia datang membawa undangan pernikahannya!
* * *
* * *